ISTIGHFAR

Majelis Alfath

ISTIGHFAR

Istigfar yang kita ucapkan membutuhkan kepada istigfar yang lain, karena kekurangan disebabkan lupanya hati kita bersama ALLAH SWT.

Maka sesungguhnya, meskipun hati kita sering lupa kepada ALLAH, akan tetapi kita tidak boleh untuk meninggalkan istigfar kepada ALLAH SWT, walau-pun setiap istigfar yang kita ucapkan membutuhkan kepada istigfar yang lain.
Karena jika lisan sudah terbiasa berdzikir, maka tidak ada keraguan bahwasannya hati-pun akan terbiasa berdzikir, hati berusaha akan mencocoki dengan apa-apa yang ada di lisan kita.

Berbeda apabila istigfar kaum khusus dan Sayyidah Robi’ah Al-‘Adawiyyah termasuk kelompok orang yang khusus, beliau pernah berkata : “Istigfar yang kita ucapkan membutuhkan kepada istigfar yang lain”, hal ini beliau ucapkan sebagai bentuk pengajaran atas diri beliau sendiri.
Maka jika demikian, beramallah walaupun penuh kekurangan.

AL-Imam As-Suhruwardiy beliau pernah menjawab pertanyaan dari sebagian imam di daerah Khurrosan, mereka berkata ; “Hati apabila beramal tidak akan lepas, pasti akan kemasukan sifat ujub atau bangga diri, sedangkan apabila hati tidak beramal, maka hati tersebut akan selamanya dalam keadaan kerusakan”, maka beliau-pun menjawab :” Jangan pernah engkau tinggalkan berbagai amal perbuatan baik.

Dan obatilah ujub atau bangga diri yang mulai terlintas didalam hati, dan perlu engkau ketahui bahwasan-nya ujub atau bangga diri munculnya murni dari hawa nafsu, maka jadikanlah dirimu untuk selalu meminta ampun atas perasaan ujub tersebut.
Jika memang ujub tersebut terjadi karena sengaja, maka hendaknya engkau tebus dosa ujub itu dan janganlah sekali kali engkau tinggalkan amal perbuatan sama sekali, karena hal tersebut merupakan bentuk berbagai tipuan setan”.

Atas hal ini, ada satu ungkapan yang cukup indah, yang mengatakan :” Berangkatlah, beramallah menuju rohmat ALLAH dengan tertatih-tatih dan dengan hati yang remuk karena ALLAH dan jangan-lah pernah engkau menunggu kesehatan, karena menunggu-nunggu kesehatan adalah bentuk yang sia-sia”.

Imam Syafi’i ra telah memberikan petunjuk atau cara di dalam nasehat beliau : “Jika engkau takut amal perbuatanmu terkena ujub, maka ingatlah keridhoan siapa yang engkau cari, dan di dalam nikmat yang mana yang engkau inginkan, dan dari siksa apakah yang engkau lari darinya, dan akhir apakah yang engkau idamkan, dan musibah apakah yang engkau ingat, maka jika engkau ingat salah satu saja dari hal ini, maka engkau akan melihat amal perbuatanmu begitu kecilnya”.

Jika ada bisikan hatimu dari sesuatu yang dilarang oleh syariat, yang dilarang untuk berbuatnya, maka bisikan itu datangnya dari setan, benar-benar waspadalah dari bisikan-nya atau dari bujukan berupa bisikan permusuhan yang datang dari hawa nafsu yang buruk.
Perbedaan antara bisikan nafsu dan bisikan setan, bisikan nafsu tidak akan pernah kembali, sedangkan bisikan setan terkadang akan berganti dengan bisikan yang lain jika seseorang yang mendapat bisikan tersebut tidak memperdulikannya, karena memang tujuan setan tidak akan pernah berhenti untuk menyesatkan manusia, dengan perbuatan apa-pun, asalkan manusia bisa rusak dan sesat.

Maka jika engkau telah condong untuk berbuat sesuai dengan bisikan itu, maka jadikanlah dirimu meminta ampun atas condongnya diri dari bisikan setan tersebut, dari dosa dia bertaubat kepada ALLAH SWT ,takut kepada ALLAH SWT, semoga istigfar yang kita ucapkan akan dapat melebur segala dosa termasuk condongnya hati akan bisikan setan.

Kitab Zubad

والله أعلم

@KH Khoirul Anwar Fathoni

Majelis Alfath Cilegon Banten

To Top