Qonaah, Towil Amal & Wara

Majelis Alfath Cilegon Banten

 قناعة، طول أﻷمل والورع

من كﻻم أﻹمام أحمد بن زين الحبشي في الكﻻم اﻹمام عبد الله بن علوى الحداد : شرح العينية

باب : قناعة، طول أﻷمل والورع

واقنع بميسور المعاش وﻻتطل * أمﻻ وعما ﻻيحل تورع

“Qanâ’ah-lah dengan penghasilan hidup yang sedikit, Dan jangan berangan-angan panjang. Kemudian wara’-lah terhadap semua yang tidak halal”

Dalam bait di atas, Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad ra menyebutkan kata qanâ’ah, dengan angan-angan pendek dan wara’ ( sikap hati-hati ).

Qanâah artinya merasa cukup dengan rezqi yang ada dan di dalam memenuhi segala kebutuhannya dia hanya bergantung dan memohon kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Secara bahasa qanâ’ah juga berarti permohonan.

Permasalahan qanâ’ah ini telah kubahas secara panjang lebar pada catatan kakiku untuk bait qasidah Nûniyah Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad ra yang berbunyi :

وأن ترض باالمقسوم عشت منعما * وأن لم تكن ترضى به عشت في حزن

” Jika engkau ridha dengan apa yang telah dibagikan Allâh, maka engkau akan hidup senang ( nyaman ). Dan jika engkau tidak ridha dengannya, maka engkau akan hidup dalam kesedihan”

Qanâ’ah merupakan tahap awal mencapai kedudukan ridha. Qanâ’ah hanya akan terwujud jika seseorang bersikap lemah lembut ketika bersedekah dan tidak berlebih-lebihan. Dalam sebuah hadist disebutkan :

من اقتصد أغناه الله ومن بذر أفقره الله

“Barang siapa berhemat, maka Allah akan menjadikannya kaya dan barang siapa boros, maka Allah akan membuatnya faqir” ~ HR. Bazzâr

Sikap qanâ’ah ini tidak akan sempurna sebelum seseorang secara penuh menaruh kepercayaan pada pengaturan Allah.

Allah Ta’ala mewahyukan :

وما من دآبة في اﻷرض إﻻعلى الله رزقها

“Dan tidak ada satu binatang melata pun di muka bumi ini melainkan Allah-lah yang memberinya rizqi” ~ Húd, 6

والله اعلم

@KH Khaerul Anwar Fathoni

MAJELIS ALFATH CILEGON BANTEN

To Top