Kajian Fiqih

Kajian Sholat Jumat di Hari ‘Ied

Majelis Alfath Cilegon Banten

Jika Hari Id Bertepatan Dengan Hari Jumat

Apabila hari Id bertepatan dengan Hari Jumat, maka tetap wajib untuk melaksanakan Shalat Jumat. Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi SAW. DI zaman Nabi SAW, pernah terjadi Hari Id bertepatan dengan Hari Jumat, maka beliau melaksanakan Shalat Id, kemudian melaksanakan pula Shalat Jumat. Sahabat Numan bin Bisyir RA meriwayatkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ

Nabi SAW membaca dalam shalat Dua hari raya dan dalam shalat Jumat Surat al Ala (sabbihisma Robbikal Ala) dan Surat al Ghasyiah (Hal Ataka Haditsul Ghosyiah). Dan jika Hari Id bertepatan dengan Hari Jumat, beliau membaca kedua Surat itu dalam Kedua Shalatnya (Shalat Id dan Shalat Jumat) (HR Muslim)

Ini menunjukkan secara jelas bahwa Nabi SAW melaksanakan dua Shalat yaitu Shalat Id dan Shalat Jumat ketika Hari Id bertepatan dengan Hari Jumat.

Ada pun pendapat yang menyatakan bahwa Shalat Jumat menjadi gugur bagi orang yang hadir Shalat Id ini adalah pendapat yang lemah. Memang benar ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa Nabi SAW memberi keringanan untuk tidak Shalat Jumat jika hari raya bertepatan dengan Hari Jumat. Seperti Ucapan Sahabat Zaid bin Arqom ketika ditanya mengenai yang dilakukan oleh Rasulullah apabila Hari Id bertepatan dengan Hari Jumat. Beliau mengatakan:

قال صلى العيد ثم رخَّص في الجمعة فقال من شاء أن يصلِّيَ فليصلِّ …

Beliau melaksanakan Ied kemudian memberikan keringanan dalam Shalat Jumat dan bersabda, “Siapa yang menghendaki untuk shalat Jumat, Shalatlah.” (HR Abu Dawud)

Perlu diketahui bahwa yang diberikan keringanan oleh Nabi SAW di dalam dua hadits ini adalah penduduk Aliyah Madinah. Yaitu orang-orang yang tinggal di luar kota Madinah yang datang untuk melaksanakan Shalat ID. Nabi SAW memberikan keringanan sebab jika mereka diperintahkan untuk Shalat Jumat setelah pulang ke tempatnya yang jauh, maka mereka akan merasa sangat berat. Adapun penduduk yang ada di dalam kota, maka mereka tetap wajib melaksanakan Shalat Jumat.

Pendapat ini juga dikuatkan dengan ucapan Sayyidina Utsman bin Affan pada suatu Hari ID:

“Ini adalah hari di mana terkumpul bagi kalian dua hari raya. Siapa yang ingin menunggu Shalat Jumat bagi penduduk Awali (luar Madinah) maka menunggulah. Dan siapa yang ingin pulang, aku telah mengizinkannya.” (HR Bukhari)

Syaikhul Islam Zakariya al Anshari dalam Fathul Wahhab mengatakan:

“Jika Hari Jumat bertepatan dengan Hari Id, kemudian penduduk dusun yang dapat mendengar adzan dari dalam kota mengikuti Shalat Id maka mereka boleh pulang dan meninggalkan Jumat. Akan tetapi jika telah masuk waktu Jumat sebelum mereka pulang, Seperti jika masuk waktunya setelah mereka salam dari shalat ied maka zahirya mereka tidak boleh meninggalkan Shalat Jumat.”

Kesimpulannya bahwa Shalat Jumat tetap Wajib bagi penduduk yang ada dalam kota atau desa yang diselenggarakan Shalat Jumat di dalamnya.

Adapun penduduk pegunungan atau dusun yang tinggal di daerah yang tidak dilakukan shalat jumat karena penduduknya kurang dari 40 orang misalnya, maka hukumnya ditafsil:

1. Jika mereka bisa mendengar suara adzan Jumat di daerah terdekat, maka mereka wajib melakukan Shalat Jumat pada hari biasa. Pada hari Id, mereka boleh meninggalkan Shalat Jumat jika mereka ikut Shalat Id dan pulang sebelum masuk waktu Shalat Jumat (tentunya dengan melaksanakan Shalat Dzhuhur di tempat tinggal masing-masing).

2. Jika mereka tidak dapat mendengar suara adzan dari daerah terdekat, maka mereka tidak wajib melaksanakan Shalat Jumat baik di hari Ied atau lainnya.

والله اعلم

@KH Khoirul Anwar Fathoni

Majelis Alfath Cilegon Banten

www.alfath.or.id

To Top