Hikmah

RAHASIA REZEKI

بسم الله الرحمن الرحيم

RAHASIA REZEKI

Saat Imam Syafi’i masih masih menjadi murid Imam Malik, terjadi perbedaan pendapat antara keduanya dalam memaham hadits Nabi SAW berikut:

لو توكلتم على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدو خماصا و تروح بطانا

“Kalau saja kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, maka pasti Allah limpahkan rezeki pada kalian seperti Dia limpahkan rezeki kepada burung, burung pergi terbang dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang”. (HR. Ahmad dan At-Turmudzi)

Imam Malik memahami hadits ini bahwa rezeki itu bisa didapat dengan tanpa harus bekerja, rezeki mutlak dari Allah, bisa datang tanpa kita cari pun, bahkan bisa datang walau kita tidak mau. Buktinya burung saja bisa mendapatkan rezeki.

Namun Imam Syafi’i berpendapat lain, beliau berpendapat rezeki harus dicari. Buktinya burung itu pergi terbang untuk mencari makan. Seandainya burung itu tidak pergi, hanya bertengger di dahan pohon, maka burung tersebut tidak akan bisa dapat makan.

Akhirnya, Imam Syafii ingin membuktikan kepada gurunya (Imam Malik) bahwa rezeki harus dicari sebagaimana pendapatnya.

Suatu hari Imam Syafi’i melihat seorang tua renta sedang membawa bungkusan gandum yang teramat berat, maka Imam Syafi’i membantu orang tua itu membawa bungkusan berat tersebut sampai tiba di rumahnya. Orang tua ini pun berterima kasih dan memberi beberapa buah kurma kepada Imam Syafi’i sebagai ucapan terima kasih.

Mendapat kurma dari hasil usahanya membantu si orang tua tersebut, membuat Imam Syafi’i senang dan semakin meyakinkan dia bahwa rezeki didapat dari kerja keras. Maka diapun membawa kurma itu kepada gurunya (Imam Malik) ingin menunjukkan bahwa rezeki didapat dengan bekerja.

Sesampainya di hadapan Imam Malik, Imam Syafii mengeluarkan kurma tersebut dan mempersilahkan Imam Malik memakannya, Imam Malik langsung memakannya. Lalu langsung saja Imam Syafi’i berkata “Wahai guruku, tahukah engkau, bahwa kurma ini adalah rezeki dari Allah yang aku dapatkan dari hasil upah kerjaku membantu seorang kakek, aku mengantar bungkusannya yang berat. Berarti sudah jelas bahwa rezeki tidak bisa didapat kecuali dengan kerja. Kalau seandainya aku duduk duduk saja dan tidak membantu kakek itu, mana mungkin aku bisa makan kurma ini.

Sambil mengunyah kurma Imam Malik tersenyum dan berkata “Muridku, kau dapatkan kurma ini dengan bekerja, tapi aku dapat kurma ini dan memakannya tanpa harus membantu kakek itu, kau sendirilah yang datang ke sini mengantar kurma ini, sementara aku hanya duduk duduk saja.. Itu menunjukkan rezeki yang ku dapat hari ini tanpa kerja, hanya duduk saja.

Imam Syafi’i pun tersenyum. Lalu guru dan murid ini pun tertawa.

Kesimpulan:

Dari kisah ini kita pahami bahwa rezeki Allah itu ada dua :

1. Rezeki yang didapat karena dicari
2. Rezeki yang didatangkan oleh Allah

Kedua jenis rezeki ini akan senantiasa kita dapat dalam kehidupan kita di dunia ini.

Namun, hendaknya kita mengingat dua hadits berikut :

المؤمن القوي خير و أحب إلى الله من المؤمن الضعيف

“Orang Mukmin yang kuat lebih disukai Allah dari orang mukmin yang lemah”.(HR. Muslim).

اليد العليا خير من اليد السفلى

“Tangan di atas (pemberi) lebih baik dari tangan di bawah (penerima). HR. Bukhari

Jadilah mukmin yang kuat dan dermawan. Muliakanlah diri kita sebagai hamba allah yg bermanfaat untuk sesama hamba Allah

والله اعلم ,@KHKAF

To Top