Aktivitas Majelis

MAJELIS DZIKIR DAN MAULID bersama Alhabib Assayid Umar Bin Al Alamah Al Faqih Al Habib Zain Bin Ibrahim bin Sumaith dari Madinah Al Munawaroh @ 10 Syaban 1437 H – 17 Mei 2016

Mengundang segenap Jamaah Majelis, Muslimin dan Muslimat pada 10 Syaban 1437 H bertepatan dengan 17 Mei 2016, Selasa Malam Rabu ba’da isya di Ponpes Alfath untuk hadir dalam acara dzikir dan maulid.

Majelis Alfath akan kehadiran tamu yang mulia

“Alhabib assayid umar bin al ‘alamah al faqih alhabib zein bin ibrohim bin smith” dari madinah almunawwaroh

“Alhabib habsy bin abdulloh bin alwi alhabsy” dari solo

Semoga Alloh membulatkan niat, meringankan langkah dan memberkahi muslimin dan muslimat untuk dapat hadir dalam halaqoh yang mulia tersebut untuk bersama sama menggapai rahmat Alloh dan Syafaat Rosululloh SAW.

عنْ أَبي سعيدٍ رضِي اللَّه عنْهُمَا قالا : قَالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا يَقْعُدُ قَوْمٌ يذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ حفَّتْهُمُ الملائِكة ، وغشِيتهُمُ الرَّحْمةُ ونَزَلَتْ علَيْهِمْ السَّكِينَة ، وذكَرَهُم اللَّه فِيمن عِنْدَهُ » رواه مسلم .

Dari Abi Sa’id al-Khudri ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Tiada suatu kaum yang duduk dalam majelis dzikir kepada Allah ( Majelis Ilmu ), pasti dikelilingi Malaikat dan diliputi rahmat Allah dan diturunkan pada mereka ketenangan dan ketentraman serta namanya disebut oleh Allah di depan para Malaikat-Nya. (HR.Muslim).

Semoga Kehadiran dalam majelis dzikir dan maulid tersebut merupakan refleksi kecintaan kita kepada para Ulama pewaris Nabi. Mengapa harus mencintai ulama, siapa bilang itu kultus .. #tebuireng.net

Semua ini merupakan anugerah Allah:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat. (Al-Mujadilah: 11)

Dalam al-Quran disebutkan bahwa orang yang berilmu menjadi standar kemuliaannya. Allah Swt berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَاب

Tidaklah sama orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar: 9)

Allah Swt juga menempatkan orang-orang yang berilmu pada posisi ketiga setelah ZatNya dan Malaikat, yang bersaksi atas keesaanNya:

شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ

Allah menyatakan
bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).(QS. Ali Imran: 18).

Dan puncaknya, Allah menegaskan bahwa yang paling bertakwa kepadaNya adalah orang-orang alim:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu (ulama). (QS. Fathir: 28)

Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Adab al-Alim wa al-Muta’allim, mengutip hadis riwayat Imam Thabrani yang menujukkan keutamaan ulama:

يَشْفَعُ يَوْمَ القِيَامَةِ ثَلاَثَةٌ الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ العُلَمَاءُ ثَمَّ الشَّهَدَاءُ

Ada tiga orang yang pada hari kiamat kelak dapat memberi syafa’at kepada orang lain, yaitu para nabi, para ulama, dan para syuhada.(HR. At-Thabrani)

Itulah sebabnya Rasulullah Saw menyamakan kedudukan para ulama seperti kedudukan Beliau atas umatnya.

فضل العالم على العابد كفضلي على أمتي

Keutamaan orang alim atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan diriku (Nabi Muhammad SAW) di atas umatku. (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)

Rasulullah membuat tamsil, para ulama itu laksana bintang-bintang di angkasa. Beliau SAW bersabda:

وفضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب وإن العلماء ورثة الأنبياء وإن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا العلم فمن أخذه أخذ بحظ وافر

Keutamaan orang alim (ulama) atas orang yang ahli ibadah, adalah laksana cahaya bulan yang jauh lebih terang daripada cahaya bintang-bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Dan para Nabi tidak mewariskan harta. Mereka mewariskan ilmu (kepada para ulama). Barangsiapa mempelajari ilmu warisan itu, niscaya dia akan memperoleh bagian yang sempurna (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)

Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa para ulama pada hari kiamat akan berdiri di atas mimbar yang terbuat dari cahaya. Dan ketika masih hidup, umat Islam dianjurkan shalat (bermakmum) kepada para ulama. Qadli Husain menukil sebuah hadis bahwa Nabi SAW bersabda:

مَنْ صَلَّى خَلْفَ عَالِمٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى خَلْفَ نَبِيٍّ, وَمَنْ صَلَّى خَلْفَ نَبِيٍّ فَقَدْ غُفِرَ لَهُ

Barang siapa salat (bermakmum) di belakang orang alim, maka ia laksana salat di belakang Nabi. Dan barang siapa salat di belakang Nabi, maka dosa-dosanya akan diampuni.

Hadratus Syeikh juga mengutip sebuah hadis dari mukadimah kitab Nadzm al-Dlurar, bahwa Nabi SAW bersabda:

من عظم العالم فإنما يعظم الله تعالي ومن تهاون بالعالم فإنما ذلك استخفاف بالله تعالي وبرسوله

Barangsiapa memuliakan ulama, dia laksana memuliakan Allah Swt. Barangsiapa merendahkan ulama, maka ia seperti merendahkan Allah Swt dan utusan-Nya.

To Top