INDAHNYA KHUSYU’

amirullah-inside.blogspot.com

M.A.V~313

Disadur dari kitab karya Al-Habib al-Faqih Muhammad bin Ahmad Asy-Syatiri RA.

Shalat tanpa kekhusyu’an ibarat jasad tidak bernyawa dan ibarat pohon tidak berbuah. Puncaknya, orang hanya shalat dengan cara tradisi (secara otomatis) seperti untuk menghargai kemuliaan waktu di mana shalat diwajibkan pada waktu itu dengan tujuan agar tidak berdosa karena meninggalkannya.

Hanya saja, shalat ini bukanlah jenis shalat yang mencegah kekejian dan kemungkaran seperti yang ciri-cirinya telah dijelaskan sebelumnya saat kita berdalil pada ayat “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabût [29]: 49)

Di antara tanda-tanda kekhusyu’an dalam shalat adalah anggota badan tenang, tidak bergerak, dan tenang secara sempurna saat berdiri maupun duduk. Saat melihat orang bergerak-gerak saat shalat, Rasulullah saw bersabda, “Andai hatinya khusyu’ niscaya anggota badannya tenang.”

Sebagian ulama mensyaratkan kekhusyu’an untuk diterimanya shalat meski hanya sebagian saja. Yang lain menyatakan khusyu’ adalah salah satu rukun shalat.

Hasan al-Bashri rhu berkata, “Seseorang tidak mendapatkan apa pun dari shalatnya selain yang ia fahami.”
Sebagian lain berpendapat ekstrim tentang tidak khusyu’ dalam shalat, ia berkata, “Setiap shalat yang tidak menghadirkan hati di dalamnya lebih cepat mengundang siksa.”
Ibnu Muqri berkata, “Kau shalat tanpa menghadirkan hati, maka kau mewajibkan hukuman.”

Banyak sekali imam-imam yang memiliki kondisi mengagumkan yang memberi kita gambaran indah tentang batas kekhusyu’an mereka saat shalat serta menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang mukmin yang disebut-sebut al-Qur’an dalam firman-Nya, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya.” (QS. Al-Mukminûn [23]: 1-2)

Rasulullah SAW bersabda, “Dan penyenang hatiku dijadikan dalam shalat.” Artinya, hati Rasulullah SAW bergembira dan senang saat shalat.

To Top