Amaliyah

Menjadi Muslim yang Murah Senyum dan Tawadhu’

generasisalaf.wordpress.com Images may be subject to copyright.

عن جرير بن عبدالله رضى الله عنه قال : ما حجبني النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا رآني إلا تبسم في وجهي

Dari Jarir bin Abdillah dia berkata:”Rasulullah tidak pernah melarangku untuk menemui beliau sejak aku masuk Islam, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum di hadapanku”. (HR.Bukhari).

Imam Al-Ghazali berkata:

“فيه – أي: هذا الحديث – ردٌّ على كلِّ عالِم أو عابدٍ عبس وجهه، وقَطَّب جبينه كأنَّه مستقذِرٌ للناس، أو غضبان عليهم، أو مُنزَّه عنهم، ولا يَعلم المسكينُ أنَّ الورَعَ ليس في الجَبْهة حتى تُقطَّب، ولا في الخَدِّ حتى يُصعَّر، ولا في الظهر حتى يَنْحَني، ولا في الرَّقبة حتى تُطاطَأ، ولا في الذَّيْل حتى يُضم، إنَّما الورع في القَلْب، أمَّا الذي تلْقاه ببِشْرٍ ويلقاك بعبوس، يَمُنُّ عليك بعِلْمه، فلا أكْثرَ اللهُ في المسلمين مِثلَه، ولو كان الله يَرْضَى بذلك، ما قال لنبيِّه: ﴿ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ﴾

“Di dalamnya (dalam hadits tersebut) adalah bantahan bagi orang alim (ulama) atau ahli ibadah yang cemberut (masam) wajahnya, mengerutkan keningnya seolah-olah dia jijik kepada manusia atau marah kepada mereka (masyarakat), atau merasa orang yang disucikan dari mereka. Dan tidak tahu orang miskin ini (yang cemberut) bahwa sifat Wara’ bukanlah pada kening, sampai harus dikerutkan, juga bukan di pipi, sampai harus dimiringkan, juga bukan di punggung, sampai harus dirundukkan, bukan di leher sampai harus diangguk-anggukkan, juga bukan pada baju (menjulur ke bawah) sampai harus dirapatkan. Namun sifat wara’ itu ada di hati. Adapun orang alim yang menemuimu dengan wajah masam dan merasa kau telah berhutang ilmu padanya, maka semoga Allah tidak memperbanyak orang alim seperti itu pada masyarakat muslim. Karena kalau Allah meridhoi perbuatan (ulama cemberut) tersebut, maka tentu Allah tidak memerintahkan kepada nabiNya (untuk rendah hati), sebagaimana firmanNya:

{وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ}

“Dan berendah dirilah kamu (Muhammad) terhadap orang-orang yang beriman. ” (QS. Al Hijr: 88).

Referensi:

Kitab Syu’abul Iman. Imam Al-Baihaqi Kitab Ihya Ulumiddin. Imam Al-Ghazali

To Top